
Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya, "Guru.., saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh dan tidak bergairah, Rumah tangga saya sih aman-aman saja tapi cenderung sedikit tegang. Karier saya kacau, atasan tidak mau tahu, lingkungan kantor acuh, Apapun yang saya lakukan terkadang dinilai gagal walau kadang menurut hati kecil saya memang bisa disebut gagal.
untuk itu...”Saya ingin mati."
Sang Guru tersenyum, "Oh, kamu sakit."
"Tidak Guru”, saya tidak sakit. Saya sehat. Saya hanya jenuh dengan kehidupan ini, apalagi kehidupan dilingkungan kantor. Itu sebabnya saya ingin mati.
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, "Kamu sakit”. Dan penyakitmu itu bernama, ”'ALERGI HIDUP”.
Ya, kamu alergi terhadap kehidupan, termasuk kehidupan kantor.
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan, ataupun hal-hal yang kontra produktif.
Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. KITA BERHENTI DITEMPAT, KITA TIDAK IKUT MENGALIR. Itu sebabnya kita stress dan jatuh sakit. Kita sendiri yang mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.
Karier atau usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan dengan sesama rekan kantorpun pun tidak selalu langgeng.
Apa sih yang abadi dalam hidup ini?
Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal ( TIDAK TERCAPAI ), kecewa dan menderita. "Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." kata sang Guru.
"Tidak Guru, tidak.....
Saya sudah betul-betul jenuh dan muak dengan kehidupan ini jawabnya sedikit ngeyel.
Tidak, saya tidak ingin hidup." Pria itu menolak tawaran sang Guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?
"Ya”, memang saya sudah bosan hidup.
Baiklah.. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam sepulang dari kantor.Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.
Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru ataupun sahabatnya yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan SEMANGAT HIDUP. Namun, Guru yang satu ini aneh. Boro-boro memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran padang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis.
Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu."Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali, "Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, sayang."
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang, menjawab email yang ditujukan kepadanya. Rekan sekantorpun jadi bingung, "Hari ini, rekan kita kok terlihat aneh ya?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut.
Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi RAMAH dan lebih TOLERAN, bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. TIBA-TIBA HIDUP MENJADI INDAH. Ia mulai menikmatinya.
Pulang ke rumah jam 6 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya.
"Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu."
Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami."
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol racun yang sudah ia minum, sore sebelumnya?
Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi.
Lalu katanya "Buang saja botol itu”.
Isinya air biasa.
Kau sudah sembuh.
Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan.
Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau TIDAK akan JENUH, TIDAK akan BOSAN. Kau akan MERSA HIDUP.
Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan."
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, kini kehudupannya masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!
Selasa, 09 September 2008
Hiduplah Mengalir Seperti Air
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar